Selasa, 16 September 2014

Sindrom Shopping di Kalangan Mahasiswa










Virus ini sanagat akrab dengan masyarakat kapitalisme, penikmat konsumerisme yang ketika hasrat untuk bisa terpenuhi melalui objek-objek konsusmsi lain yang sangat tinggi nilainya, hasrat selalu ada dan selalu muncul dalam diri manusia, tidak akan ada habisnya selalu ingin beruba, selalu ingin beda. 

Meskipun sesuatu yang dimilikinya itu sudah tergolong bernilai tatapi masih saja menginginkan yang lebih seakan hasrat itu tidak akan terpenuhi soedjatmiko mengungkapkan, “manusia tidak hanya ditawari apa yang mereka butuhkan (what they needed) melainkan pula apa yang mereka harapkan (what they desired) ” dengan sekejap, awalnya hanya menjadi keinginanlalu menjadi kebutuhan dan kebutuhan itu hanya kebutuha hasrat saja dengan mengikuti perkembangan zaman rela mengorbankan materi secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhan hasrat saja, sehingga mengonsusmsi bermacam-macam produk tanpa memperhatikan daya guna dan manfaat barang tersebut, sehingga yang timbul adalah sampah, seperti halnya fashion yang merupakan kebutuhan wajib di kalangan mahasiswa khususnya para perempuan ketika pergi ke kuliah. 

Mereka akan malu memakai baju yang sama pada hari kemarin,mereka lebih terpandang dengan barang-barang yang bermerek apa yang dimilikinya barang-barang yang dimilinyapun berjumlah sangat banyak dan belebihan seperti halnya dia memiliki sebuah leptop lalu ada model terbaru, seperti tablet dan tablet berbagai merek dan versi semakin cangginya, teknologi semakin membuatnya terlena hasrat terus-terus meningkat untuk memilikinya akhirnya konsumerismepun terjadi dan secara berlebih-lebihan dan memunculkan identitas sosial yang beranggapan dirinya berkelas dan orang yang kaya tetapi tidak memperhatikan kebutuhan. 

Mahasiswa seperti halnya buku yang sangat menunjang pengetahuan belajar mereka. yaitu Objek-objek konsumsi yang terus diproduksi dan membombardir masyarakat seolah tidak pernah memenuhi kebutuhan dan tidak bisa memuaskan hasrat. Yang bermulah dari hasrat kemudian konsumerisme dan menunjukkan identitas sosial.

PECAHKAN MASALAH STERSS

Stress, euy!
Stess kerap kali datang ketika kondisi tubuh mulai turun, dengan banyaknya agenda yang begitu padat dan pekerjaan yang semakin hari semakin numpu, kondisi ini tidak jarang dialami seorang mahasiswa stadium akhir ini, apalagi menjelang UTS tugas dan laporan dari setiap mata kuliah ada itupun di kejar deadline, ketika kita dalam kondisi seperti itu pasti akan drop pastinya untuk itu kita harus memecahkan salah stess itu sendiri dengan cara:

Jaga kesehatan
Dengan banyaknya tugas kita akan lupa kesehatan, apa lagi dengan padatnya kegitan dari pagi sampai sore, usahakan kita sarapan pagi agar konsisi siangnya tetap fres atau kalo tidak sempat sarapan baswa bekal, entah itu roti dan air putih.

Santai.
Kalo sudah di hadapkan dengan banyak tugas kita selalu tergesah-gesah, dan tidak tenang santailah dan selalu berfikir positif tugas itu akan kelar dengan tepat waktu.

Senyum.
Ini sering kali sulit dilakukan ketika kita dalam keadaan stress susah senyum mengeluh, ngegrutu, tersenyumlah karena dengan tersenyum akan menjadi rileks.

Musik penyemangat.
Biar enggak suntuk dan bosan hidupkan musik penyemangat, ketika mengerjakan tugas tetap semangat.

Shopping vs Mahasiswa

Let's go for shopping!
Siapa shi?, yang tidak  suka shoping, shoping sangatlah wajib bagi orang-orang berkantong tebal di dunia mahasiswa khusunya sangat wajib bagi mereka, jangan kira shopingnya pelajar adalah soping kecil-kecilan mereka bisa saja menghabiskan uang satu dompet dalam waktu sekejap bahkan kartu kredit bisa terkuras habis dalam waktu satu hari, shoping adalah hal yang menyenangkan tapi shoping barang-barang yang dibutuhkan atau barang yang lebih bermanfaat lebih baik, hanya seglintir orang yang memikirkan akan hal tersebut, bagi mereka barang-barang yang sifatnya kebutuhan dan pelengkap sulit dibedakan, seperti tas, sepatu, baju itu memang tidak bisa lepas dari yang namanya mahasiswa apa lagi makhluk yang satu ini yaitu perempuan, perempuan mana shi? Yang tidak mau dibilang cantik, modis apa lagi mahasiswa anak kuliahan yang tiap harinya berada di luar.
Mahasiswa harus up date, jadi kalo berpenampilan harus up to date pula, penampilan menjadi modal utama karena, mahasiswa selalu berkumpul dengan orang banyak penampilannya harus modis dan trendi, make up, baju-baju dan accsesoris lainnya ini bagetnya dalam satu bulan mencapai kurang lebih 600 ribu belum lagi katalog yang ada di sekeliling kita ada shopy martin, oreflime, ifa dll masalah shoping mahasiswa tidak perna ketinggalan shoping online, shoping trafeling, hingga untuk shopingpun ke luar kota untuk membeli barang yang mereka inginkan.


Shopingnya mahasiswa itu seharusnya hal-hal yang menunjang akademik, seperti halnya buku mahasiswa harus maniak akan buku karena seorang akademisi harus berwawasan luas, bukan penampin aja yang harus modis dan trendi tapi pemikiran juga. Mahasiswa membeli buku setahun hanya 2 kali saja padahal jika dikalkulasikan setahun 12 bulan kita membeli buku satu satu kali kan itu lebih bergarga darai pada kita habisnkan semuah uang kita untuk shoping dengan hal-hal yang tidak begitu urgen lainnnya.

Kosumerisme K-pop

Fenomena K-Pop
Siapa sih? Yang tidak suka super junior yang disinkat (suju), sayni dll apa shi yang disukai dari k- pop?  Kualitas koreografi dari deans, suara penampilan lagu-lagunya enak didengar, apalagi stailnya ditambah lagi wajah-wajah artisnya ujar cewek yang hobinya selfi itu, dia sejak SMA menyukai musik k-pop, yang dulunya berawal dari musik dangdut setelah sering melihat penampilan suju di tv akhirnya dia lebih tertarik sama k-pop dan sekarang melihat dan mendengarkan k-pop menjadi bagiandari gaya hidupnya.

 K-pop atau korea pop kini seakan memborbardir penikmat musik di indonesia dimanapun, kapapun,  konsumsi mereka sehari-hari, dan bahasan sehari-hari adalah artis-artis korea, layar televisi di hiasai oleh bintang-bintag korea, sangat luar biasa industri musik korea mereka memecahkan rekor terlaris di industri musik dunia yang menyihir orang-orang untuk lebih tertarik terhadap musik k-pop, bukan konsumsi barang secara berlebihan saja melainkan melihat atau menyaksikan dengan berlebihan sampai lupa akan hal yang lain yang begitu penting dan bahkan wajib untuk dilakukan dari siswa-siswa SD, samapai mahasiswa mereka menyukai k-pop, dan ketika ada konser korea mereka berbondong-bondong untuk membeli tiket, yang harga satu tiket saja sama halnya biaya hidup satu bulan, uang itupun hanya meminta pada orang tua, itu bagi yang tinggal di pusat kota khususnya jakarta dan bagi yang tinggal  jauh dari pusat kota mereka semalaman suntuk bergadang untuk melihat di layar kaca dan mengabaikan tugasnya menjadi pelajar.

 Gaya hidup dan fation mereka serupa dengan mereka bahkan mereka rela menghabiskan uangnya untuk membeli produk-produk atau barang-barang yang ala-ala korea. ketika ada model terbaru barang atau produk yang kemarin dengan mahal dengan mudahnya tergeserkan begitu seterusnya, dengan berlebih-lebihanlah mereka melakukannya tanpa melihat aspek utilitas, yang kegunaannya sama sekali tidak ada manfaatnya, padahal mereka lebih membutuhkan fasilitas yang harus menunjang dalam hal pendidikannya.