Selasa, 17 Juni 2014

OPERA TUHAN







Perkataan itu selalu terucap meski tak perna kulakuakan, selalu terucap ya, kapan lagi aku tidak mengerti opera tuhan selanjutnya itu seperti apa? Perkataan itu berulang-ulang terucap meski sering menghilang difikiranku dan musna oleh berjalannya waktu tapi, itu menjadi catatan tuhan yang tidak seorangpun dapat menghapusnya. Cahaya yang indah harus dijemput dengan keanggunan, jiwa yang indah tergambar oleh sorot mata an senyuman yang tulus, tapi mulai dari mana aku menjemputnya?, kau harus melalui duri-duri yang tajam, kau harus melewati onak.

Harapan itu selalu ada tapi begitu rapu untuk melawannya, sesekali hilang dengan sandaran do’a yang selalu kupanjatkan, mulai lagi aku merasa tuhanku sangat pencemburuh tidak mau untuk dilupakan, aku akui sangat sering melupakannya, ketika ada sesuatu aku kembali kepadanya tapi dengan  tangan terbuka lebar tetep saja menerimanya. 

Untuk sekarang cukup engakau lah bagiku, aku ingin mencintaiMu sedalam-dalamnya, karena cintaMu tidak mebuat aku sakit, karena cintaMu tidak membuat aku lelah, cintaMu sangat indah, meski jiwaku rapu tapi tatapan indah kau hadirkan, sapaan indah kau samapikan, belaian kau berikan. Ingatkan aku selalu dengan keindahan yang kau berikan meski air mata ini memeh dan mercucurannya airmata membanjiri mata yang menangis karena penyesalan.

AL-AYYUBI



Setumpuk Buku Mempesona


Setumpuk Buku Mempesona

Mata ini selalu berjelajah di antar tatahan huruf-huruf kecil itu, enggan bola mata menelusuri barisan huruf yang merangkai kata itu, seakan membawa pesaranku padamu ya, aku mencintaimu, tapi aku takut kau tidak mencintaiku, untuk itu aku menaruh rasa ini di dasar hati ini sehingga tak seorangpun tau kecuali aku dan tuhan, aku terlalu cemburuh jika orang menyebut namamu atau membicarakanmu walaupun sebentar, mungkin jika nanti aku tak bisa denganmu itu merupakan opera tuhan yang terbaik, tapi aku tetep manaruhmu di dasar hatiku menjadikan sahabat terindah yang perna aku alami bersamamu, aku tidak akan menceritakkanmu ke pada kekasih halalku nanti, aku takut ia akan marah dan cemburuh  padamu karena kau yang pertama mengajari aku cinta dan aku berikkan sebagian hatiku padamu.
            
        Buku-buku itu sering kali ku tatap jika aku merindukannmu, aku takut dengan rasa rindu ini, sang pemilik rindu tahu, tapi hati ini tidak bisa di bohongi oleh rasa rindu sang maha rindu tetap saja melihat dan mengetahuinya, sering kali aku berpaling dari itu tapi dia selalu hadir. Akankah sang maha rindu cemburuh tentang hal ini, itu yang membuatku gelisah tiap kali fikiranku bersua-sua akan namamu dan percakapan kita. Dengan melihat cover buku yang berjajar di lemari tangan ini menggerakkan untuk mengambilnya dan memeluknya erat-erat meski aku tak tau kau memikirkan apa yang aku pikirkan saat ini.
             
    Aku ingin melepaskan setumpuk buku itu tapi hati ini meronta-ronta menolak, sang penggengam hati apakah ini yang dinamakan cinta tulus? Meski di luar sana banyak mahkluk-mahkhluk cantik yang menggoda bak bidadari bermata jeli, sesekali hati ini tertarik dengan yang lebih indah tapi, tetap saja teringat dengan setumpuk buku itu, yang selalu berjalan takjub di antara hati dan fikiranku, selalu menari-nari striptis di lubuk hatiku. Ku percaya pada sang pemegang hati jikalau dia tercipta untukku enggan arah melintang pasti uluran tanganya pasti dekat di depan mata, bak kisa adam dan hawa yang selalu mencari meski seluruh dunia terkoyahkan, meski air mata habis terkuras dan hari ini dirundung dengan kejenuhan dengan kekuatan cinta, kepada sang pengengam hati akan di persatukan.
             
        Setumpuk buku yang ku sayang apakah kau merasakannya? Jika ya, kau adalah cinta sejatiku, jika tidak kau cinta indah yang tuhan besitkan dalam hati. Tapi hati ini ada harapan untuk memilihkimu, karena aku mencintaimu bukan kau cantik, bukan kau baik, tapi dengan kecantikan hatimu akan memancarkan keindahan yang syahdu, aku yakin akan meruntuhkan segalah keburukkan yang ada di hatiku, aku tahu bukan kan sang pemilik cinta sudah berjanji, belahan jiwamu seindah jiwamu itu membuatku agak sedikit minder, tapi aku berusaha berbena diri meski aku sering kali khilaf dengan dosa-dosa.

alin rosyidah 14-juli 2014