Setumpuk
Buku Mempesona
Mata ini selalu
berjelajah di antar tatahan huruf-huruf kecil itu, enggan bola mata menelusuri
barisan huruf yang merangkai kata itu, seakan membawa pesaranku padamu ya, aku
mencintaimu, tapi aku takut kau tidak mencintaiku, untuk itu aku menaruh rasa
ini di dasar hati ini sehingga tak seorangpun tau kecuali aku dan tuhan, aku
terlalu cemburuh jika orang menyebut namamu atau membicarakanmu walaupun
sebentar, mungkin jika nanti aku tak bisa denganmu itu merupakan opera tuhan
yang terbaik, tapi aku tetep manaruhmu di dasar hatiku menjadikan sahabat
terindah yang perna aku alami bersamamu, aku tidak akan menceritakkanmu ke pada
kekasih halalku nanti, aku takut ia akan marah dan cemburuh padamu karena kau yang pertama mengajari aku
cinta dan aku berikkan sebagian hatiku padamu.
Buku-buku
itu sering kali ku tatap jika aku merindukannmu, aku takut dengan rasa rindu
ini, sang pemilik rindu tahu, tapi hati ini tidak bisa di bohongi oleh rasa
rindu sang maha rindu tetap saja melihat dan mengetahuinya, sering kali aku
berpaling dari itu tapi dia selalu hadir. Akankah sang maha rindu cemburuh
tentang hal ini, itu yang membuatku gelisah tiap kali fikiranku bersua-sua akan
namamu dan percakapan kita. Dengan melihat cover buku yang berjajar di lemari
tangan ini menggerakkan untuk mengambilnya dan memeluknya erat-erat meski aku
tak tau kau memikirkan apa yang aku pikirkan saat ini.
Aku
ingin melepaskan setumpuk buku itu tapi hati ini meronta-ronta menolak, sang
penggengam hati apakah ini yang dinamakan cinta tulus? Meski di luar sana
banyak mahkluk-mahkhluk cantik yang menggoda bak bidadari bermata jeli,
sesekali hati ini tertarik dengan yang lebih indah tapi, tetap saja teringat
dengan setumpuk buku itu, yang selalu berjalan takjub di antara hati dan fikiranku,
selalu menari-nari striptis di lubuk hatiku. Ku percaya pada sang pemegang hati
jikalau dia tercipta untukku enggan arah melintang pasti uluran tanganya pasti
dekat di depan mata, bak kisa adam dan hawa yang selalu mencari meski seluruh
dunia terkoyahkan, meski air mata habis terkuras dan hari ini dirundung dengan
kejenuhan dengan kekuatan cinta, kepada sang pengengam hati akan di persatukan.
Setumpuk
buku yang ku sayang apakah kau merasakannya? Jika ya, kau adalah cinta
sejatiku, jika tidak kau cinta indah yang tuhan besitkan dalam hati. Tapi hati
ini ada harapan untuk memilihkimu, karena aku mencintaimu bukan kau cantik,
bukan kau baik, tapi dengan kecantikan hatimu akan memancarkan keindahan yang
syahdu, aku yakin akan meruntuhkan segalah keburukkan yang ada di hatiku, aku
tahu bukan kan sang pemilik cinta sudah berjanji, belahan jiwamu seindah jiwamu
itu membuatku agak sedikit minder, tapi aku berusaha berbena diri meski aku
sering kali khilaf dengan dosa-dosa.
alin rosyidah 14-juli 2014