Hanya
untuk Skripsweet !!!
Ketemu
sama komunitas K-Pop yang bernama CNH, itulah sasaran aku sama ema temenku,
sebenarnya itu shi penelitiannya ema,
tapi aku disuruh nemenin. Kita brangkat abis zduhur janjiannya, hati uda
was-was langit tampak gelap, gumpalan-gumpalan awan mulai bersua, alamat hujan
akan segerah turun, rintik-rintik hujan mulai terdengar dari atap rumah, aku
menyingkap korden di jendelah kamar tetesan-tesan air mulai berjatuhan, hujan
turun anak-anak yang mempunyai jemuran pada teriak-teriak dan berlarian
mengambil jemurannya, hpku berbunyi sms dari Ema, “lin kayaknya allah tidak mengizinkan aku berangkat sekarang hujan ni”,
aku hanya senyum sambil mematikan layar handphon sengaja tidak aku balas memang.
Hujan mulai agak redah, antara berangkat dan tidak, akhirnyapun aku
berangkat, dengan bekal, uang, air minum dan camera digital. aku sama ema
berangkat.
Angkot
yang kami tumpangi segerah melajuh cepat ke pelabuhan, dan langsung beli tiket
untuk naik kapal, kita shi agak-agak tidak enak hati, dan resah, dalam
fikiranku hemm,,,, semoga baik-baik saja, positif tinking alin!!!. Aku dan ema berlarian menujuh kapal, kapalnya
hapir mau penuh dan akan segerah berangkat. Kita sempat berhayal-hayal ketika
sampek di sana, pasti seruh, dan penasaran sama anak-anak k-pop CNH,
itung-itung untuk menghilangkan resa dalam hati kita, karena kita sama-sama
tidak tau jalan, dan kita saling sepakat kalo ketika tersesat kita akan
nanya-nanya orang-orang di sekitar kita, kapal uda mau yandar, saatnya bergegas
segerah turun, kita enjoy-enjoy aja berjalan menuju tempat pemberhentian
angkot-angkot, termasuk bus.
Aku
inget kata pamanku kalau kita tidak tahu jalan, kalau nanya orang jangan
sembarangan, harus nanya polisi, kalau tidak ada polisi, kondektur pokoknya
orang-orang yang pakai seragam. Akupun sama Ema menghampiri dua bapak-bapak
yang sedang teriak, teriak, JMP-JMP!!!!!, lalu aku dan Ema sama-sama nanya,
“pak kalau ke Sidoarjo naik apa?” “naik bus ini dek nanti turun JMP lalu naik
bus lagi jurusan Sidojarjo,” sambil tersenyum bapaknya mempersilakan, lalu
kitapun naik, aku melihat wajah Ema kayaknya dia resah, untuk mencairkan
suasana tak ajak ngobrol-ngobrol dan mencoba membahas apa yang kita lakukan,
ketika sampek di sana. Kita uda sampai, dan kondektur uda teriak-teriak, "JMP-JMP!!!!! ayo dek uda sampai” kitapun turun, waaaa....., jalanan tampak ramai,
mobil, sepeda motor berlalu lalang, Ema nggak berani nyebrang, “lin bentar
kita nungguh sepi” sambil menarik-narik tanganku, “iya” “ayo mumpung lampu
merah”, dan kondektur bus sedang memperhatikan kita yang tidak berani nyebrang
sambil bilang. “dek mau ke mana dek?” “mau ke sidoarjo" kataku. aku melangkakan
kaki tapi Ema menarikku
“bentar
lin kita mau di jemput” aku urung melangkakan kaki, akhirnyapun aku dan Ema dijemput
pak kondektur
“ayo
dek naik, nanti tak bawah pulang buat malam mingguan” aku nyenggir dan segerah
masuk.bangku-bangku bus masih pada kosong, dan kita segerah duduk di bangku isi
tiga, aku cemas
“kita
nanti turun mana ma?”
“nggak
tau”
“kenapa
kita tadi nggak nanya bapaknya diluar”
“ayo
nanya”
“tapi masak keluar lagi”
“tapi masak keluar lagi”
“yowes
nanti aja pas bapaknya mintak ongkos”, bus masih belum segerah berangkat,
kayaknya nungguh penumpang penuh, lalu lama-lama penumpang berdatangan, waaa,,,,, udah penuh ni busnya yee,,,, akan
segera berangkat , yang awalnya kita berdua disampingku ada bapak-bapak
hemmm,,,,, bapaknya lumayan gedeh badanya sampek badanku mendesak tubuhnya Ema
ke kaca jendelah, bus berjalan tapi entah kenapa jalannya pelan sekali kayak
sepeda motor kecepatan 10, dan dikit-dikit berhenti, hemmm,,,,,,, perasaanku
kok enggak enak ya, suaranya busnya aneh, kayak suara diesel rusak, tapi aku
berusaha positiftinkig,
“ma
ayo coba tanya ke bapak ini”
“ya
lin ayo”
Lalu
kita saling tanya ke bapak tersebut
“
paka bus ini kira-kira berhenti ke alun-alun SDA g?”
“emang, mbaknya mau ke mana?”
“ke
alun-alun pak” lalu dari belakang ibuk-ibuk nyahut pembicaraan kita
“nanti
mbknya turun ke ramayana”
“oh
ya buk makasih”, aku masih tidak enak hati aku masih ribut,
“ma
ramayana di sidiarjo ada berapa?”
“enggak
tau lin” lalu aku cobak nanya-nanya ke bapaknya lagi,
“pak
ramayana ada berapa di sidoarjo”
“Mbknya
mau ke alun-alun kan @#,,,$%^&*@#$”
“iya
pak makasih” lalu aku bisik-bisik
“kita
nanti nayak lagi ke bapaknya pas mintak ongkos”
“iya”
Dan
tidak lama kemudian pak kondektur mintak ongkos, “turun mana mbk?” “ramayana
pak, pasar larangan” iya akhirnya kita agak legah sedikit, bus masih seperti
tadi jalannya pelan-pelan dan muatannya mulai bertambah, sempat aku melihat ada
bule sama istrinya yang ikut berdesak-desakan sama penumpang lain, keseimbangan
bus mulai tidak karuan, bunyinya menderuh seperti memaki-maki karena keberatan
penumpang, aku dan Ema mulai tidak nyaman bau asap, bau keringat bau parfum
campur aduk jadi satu, kepalaku mulai pusing dan perut mulai mual-mual. Masih
saja penumpang mulai bertambah, hingga jalanya bus terduyun-duyun karena
kebanyakan muatan, sontak bus tiba-tiba berhenti seketika, busnya mogok, hujan
turun.
Aku
masih duduk dan melongok ke samping
jendela, air hujan tampak membasahi jalanan, lalu penumpang depan pada
teriak, turun,,, bus kebakarang asap mengepul dari mesim Bus, aku dan Ema panik,
pikiranku sudah aneh-aneh, penumpang berlarian turun saling berdesak-desakan,
aku pingin nangis, bapak-bapak yang di sampingku tadi nggak bisa keluar sempit
dengan postur tubuh yang gedeh aku dan ema meronta-ronta “pak mau keluar pak,
cepetan” penumpang yang depan semakin berteriak, aku semakin takut, Ema syok,
sampek dadanya sakit dia memegang tanganku erat-erat, aku dan Ema tetap
mendesak bapaknya untuk bisa keluar akhirnya, kita berdua keluar.
Bus
mogok tepat di jalan tol yang jauh dari rumah-rumah dan samping-samping jalan
tampak pohon-pohon dan semak belukar yang lebat, aku dan Ema takut.
“lin
gimana kita?”
“enggak tau ma”
“dadaku sakit lin”
“gak papa ma” aku mencoba menenagkan Ema, para
penumpang lain sudah, ngomel-ngomel dan sebagian lain mencoba cari pertolongan,
lalu berhentilah sebuah mobil TNI, para penumpang berlarian menujuh mobil TNI
tersebut, semuah penumpang berdesak-desakan “yang cewek dan anak-anak dulu”
teraikan para ibuk-ibuk, lalu aku dan Ema berhasil naik ke mobil TNI dengan di
tarik ema sambil desak-desakan dan tersangkut tas orang.
Aku
dan Ema tidak dapat tempat duduk akhirnya berdiri, tepat dibelakangnya kepala
mobil sambil pegangan, besi-besi yang berkarat menempel di sekitar mobil,
sambil terombang ambing menjaga keseimbangan, aku dan Ema saling berpegangan,
kita hampir jatuh tiap kali mobil mendadak ngerem. “ini semua demi skripsi, hujan-hujan lari-larian, semuah hanya untuk
skripsi aku yakin akan menuwai dari semua ini, Allah maha adil dari apa yang
kita lakukan, Allah melihat proses bukan hasil”.
Perjalanan
nampaknya sangat jauh, dalam hati meleguh, kapan sampeknya, yang aku lihat
hanya pohon-pohon dari jendela mobil yang separuh ditutupin kain tebal untuk
melindungi dari hujan dan panas. Setelah lama menungguh akhirnya sampai juga,
aku dan Ema sempat bingung, kita turun apa tidak, nanya orang-orang disekitar
jawabannya beda-beda ada yang turun sini ada yang turun situ. Dan kitpun turun
di ramayana.
Aku
dan ema masih nanya-nanya kepada orang-orang disekitar, kita naik oplet warna
kuning dan turun di pasar larangan, setelah itu kita naik becak, betapa
kasihannya tukang becak itu, terlihat sangat tua agak sedikit tidak tega jika
aku dan ema naik, secara ema dan aku berbadan besar, akhirnya kita turun di
masjid agung sidoarjo. Mata kita disambut oleh megahnya bangunan masjid dengan
halaman luas, hijau rerumputan dan pohon-pohon menghiasi halaman masjid, sejuk
dan indah. Kita melihat segerombolan cewek-cewek, yang lagi ngobrol, aku curiga
mereka komunitas k pop, “ma jangan-jangan mereka CNH” “ema hanya senyum”. “Alhamdulillah kita menunaikan sholat asyar,
ma’afkan kita ya Allah kita agak telat sholat gara-gara bus mogok”, selesai
sholad asyar kita langsung menungguh magrib sekalian, lantunan ayat-ayat
al-qur’an begitu indah. Sejuk rasanya diruar-ruar persendian selama berjam-jam
berdiri di mobil. Hujan nampaknya turun lagi tambah deras, lalu aku dan ema mencoba mengubungi co CNH kita harus kemana
sedangkan hujan semakin deras, kami menungguh di serambih depan masjid, sambil
menyaksikan orang-orang berlalu lalang keluar masuk masjid.
Akhirnyapun
kita menuju alun-alun SDA, tepatnya di pendopoh, aku dan ema agak grogi, ketemu
sama komunitas tersebut, aku lihat di pelataran pendopoh nampak
bergerombol-gerombol, banyak komunitas yang sedang berkumpul, lalu aku sama Ema
akhirnya hanya duduk di tangga-tangga.
Tiba-tiba
ada yang menghampiri kita, dengan suara tegas “ini mbk ema ya” waa,,,, agak sedikit kaget, kita
dipersilakan untuk ikut nimbrung di komunitas mereka yang lagi rapat, mereka
lumayan banyak ada ceweknya juga, ada yang memakai jilbab satu, lalu kita
perkenalan, ada yang namanya, Ardiansya, Eki, Vero dan banyak lupa yang aku
inget Cuma itu, lalu kita muali tanya-tanya, anak-anaknya rata-rata yang masih
sekolah ada yang SMP,SMA Cuma beberapa yang uda kuliah, mereka orangnya welcome
ke kita, orangnya lucu-lucu tidak seperti yang aku bayangin tadi, takutnya mereka
risih dan ilfiel melihat kita secara
penampilan mereka modis, keren bedah dengan kita yang penampilannya biasa
dengan balutan krudung panjang, tetapi menurutku tergantung kitanya, kalau
memang berpenampilan biasa kalau sama mereka tetap enjoy dan menyatu sama
mereka itu tidak menjadi masalah, oke
fine.
observasi 20 des,2014 *
.jpg)