Sekian Kali Jatuh
Cinta
Alin
Rosyidah*
Aku tidak bisa menghitung ketika bertemu dengannya,
berjuta kali aku bertemu dengannya. Saat pertama bertemu, secara tidak sengaja
orang ini sangat menyebalkan, benar kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Lalu setiap ketemu
selalu menyunggingkan senyuman yang indah, hati terbawa dalam kedamainya yang
tak seorangpun dapat mengetahuinya. Juga mengukur berapa suhu yang terkandung
kebahagiaan. Mungkin ini sebuah catatan tuhan yang telah digariskan. Jika aku
tidak menginjakkan di kota bandung ini aku tidak akan bertemu dengannya. Ya
memang semua tidak seindah yang apa pikirkan, tak seindah harapan kita, dulunya
aku akan kuliah di jakarta, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya, sungguh
tuhan mengerti apa yang kita butuhkan?.
Sekarang ini mungkin aku tidak akan terpukau dengan
senyumnya yang manis, matanya yang berbinar. Menyebalkan bukan perkara biasa
baginya, ya mintak tolong dengan memaksa sehingga orang yang diajak akan ikut
bingung dan buruh-buruh, tapi dengan kehadirannya suasana menjadi hidup. ya
perlu ku ceritakan aku pertama jatuh cinta padanya ketika kita berdua saling
kelaparan dan haus lalu dia mendapati sebuah permen, dengan seketika permen
tersebut dibagi dua, dia dan aku dan satu gelas air kita teguk bersama, jatuh
cintaku berlanjut ketika dia begitu tangguh menolongku dari segrombolan geng kupu-kupu, aku hampir dipermalukan,
aku melihatnya dia pertama marah membuatku takut.
Dengan sedikit menyentuh hatinya,
ku merasakan betabah lembutnya, ya tuhan sampai kapan aku bersamanya? Aku ingin
selamanya bersamanya. Mungkin aku akan mengis dengan menyengkram baju
blakangnya dengan memeluknya. Itu perpisahan yang menyedihkan dari sekian
perpisahan, aku tidak bisa melepaskan kepergiannya. Harus menyadari memang dan
membesarkan hati memang, “ada pertemuan pasti ada perpisahan”. Merindukannya
sangat sakit, kebersamaan masih terbayang di langit-langit, memeluk barang
pemberianya dan barang yang perna dipakek sedikit membuatku tenang, paling
tidak membayangkan dia ada di sampingku.
Pindah sekolah dengan menurut apa
kata ortu itulah yang menjadikan kita jauh, wajah yang cantik dan mata yang
indah memberikan sejuta kenangan, satu kata yang selalu aku ingat darinya
“penuhilah hati kita dengan perasaan yang positif, karena kata Allah: Aku
selalu mengikuti prasangka hambahnya”. Itulah sekian kalinya aku jatuh cinta
padanya. Aku tidak perna capek dibuatnya jatuh cinta. Kan selalu ku tangkap
cinta darimu, ya cinta karena Allah, cinta karena kau selalu memberikan yang
terbaik padaku, hingga aku menjadi hijra. Pertama ia memasangkan jilbab lebar
miliknya dan baju gamis berwarna manis itu, sungguh saat itu aku memeluknya
dengan bibir bergetar dan air mata bercucuran, ia mengorbankan beberapa jilbab
dan baju gamisnya untuk aku pakai, karena aku tidak punya itu. Sungguh Allah
memberikan romance yang tiada orang tahu betapa hati ini perasaan, cinta,
gembira , rindu yang penuh kasih sayang. Dengan kejahuan kita teknologi Takliful Qulub tetap terhubung dengan
selalu melantunkan do’a Rabitho
selalu.
