Perkataan itu selalu terucap meski tak perna kulakuakan selalu terucap ya kapan lagi aku tidak mengerti opera tuhan selanjutnya itu seperti apa? Perkataan itu berulang-ulang terucap meski sering menghilang difikiranku dan musna oleh berjalannya waktu tapi itu menjadi catatan tuhan yang tidak seorangpun dapat menhapusnya.
Cahaya yang indah harus dijemput dengan keanggunan jiwa yang indah tapi mulai dari mana aku menjemputnya, kau harus melalui duri-duri yang tajam, kau harus melewati onak, harapan itu selalu ada tapi begitu rapu untuk melawannya tapi sesekali hilang dengan sandaran do’a yang selalu kupanjatkan.
Mulai lagi aku merasa tuhanku sangat pencemburuh tidak mau untuk dilupakan, aku akui sangat sering melupakannya, ketika ada sesuatu aku kembali kepadanya tapi dengan tangam terbuka lebar tetep saja menerimanya, tapi untuk sekarang cukup engakau lah bagiku, aku ingin mencintaimu sedalam-dalamnya, karena cintamu tidak mebuat aku sakit, karena cintamu tidak membuat aku lelah, cintamu sangat indah, meski jiwaku rapu tapi tapan indah kau hadirkan, sapaan indah kau samapikan, belaian kau berikan ingatkan aku selalu dengan keindahan yang kau berikan meski air mata ini memeh dan mercucurannya airmata membanjiri mata yang menangis karena penyesalan.
14-04-2014 AR
0 komentar:
Posting Komentar