Senin, 13 Oktober 2014

Sekian Kali Jatuh Cinta
Alin Rosyidah*

Aku tidak bisa menghitung ketika bertemu dengannya, berjuta kali aku bertemu dengannya. Saat pertama bertemu, secara tidak sengaja orang ini sangat menyebalkan, benar kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Lalu setiap ketemu selalu menyunggingkan senyuman yang indah, hati terbawa dalam kedamainya yang tak seorangpun dapat mengetahuinya. Juga mengukur berapa suhu yang terkandung kebahagiaan. Mungkin ini sebuah catatan tuhan yang telah digariskan. Jika aku tidak menginjakkan di kota bandung ini aku tidak akan bertemu dengannya. Ya memang semua tidak seindah yang apa pikirkan, tak seindah harapan kita, dulunya aku akan kuliah di jakarta, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya, sungguh tuhan mengerti apa yang kita butuhkan?.

Sekarang ini mungkin aku tidak akan terpukau dengan senyumnya yang manis, matanya yang berbinar. Menyebalkan bukan perkara biasa baginya, ya mintak tolong dengan memaksa sehingga orang yang diajak akan ikut bingung dan buruh-buruh, tapi dengan kehadirannya suasana menjadi hidup. ya perlu ku ceritakan aku pertama jatuh cinta padanya ketika kita berdua saling kelaparan dan haus lalu dia mendapati sebuah permen, dengan seketika permen tersebut dibagi dua, dia dan aku dan satu gelas air kita teguk bersama, jatuh cintaku berlanjut ketika dia begitu tangguh menolongku dari segrombolan geng kupu-kupu, aku hampir dipermalukan, aku melihatnya dia pertama marah membuatku takut.

Dengan sedikit menyentuh hatinya, ku merasakan betabah lembutnya, ya tuhan sampai kapan aku bersamanya? Aku ingin selamanya bersamanya. Mungkin aku akan mengis dengan menyengkram baju blakangnya dengan memeluknya. Itu perpisahan yang menyedihkan dari sekian perpisahan, aku tidak bisa melepaskan kepergiannya. Harus menyadari memang dan membesarkan hati memang, “ada pertemuan pasti ada perpisahan”. Merindukannya sangat sakit, kebersamaan masih terbayang di langit-langit, memeluk barang pemberianya dan barang yang perna dipakek sedikit membuatku tenang, paling tidak membayangkan dia ada di sampingku.

Pindah sekolah dengan menurut apa kata ortu itulah yang menjadikan kita jauh, wajah yang cantik dan mata yang indah memberikan sejuta kenangan, satu kata yang selalu aku ingat darinya “penuhilah hati kita dengan perasaan yang positif, karena kata Allah: Aku selalu mengikuti prasangka hambahnya”. Itulah sekian kalinya aku jatuh cinta padanya. Aku tidak perna capek dibuatnya jatuh cinta. Kan selalu ku tangkap cinta darimu, ya cinta karena Allah, cinta karena kau selalu memberikan yang terbaik padaku, hingga aku menjadi hijra. Pertama ia memasangkan jilbab lebar miliknya dan baju gamis berwarna manis itu, sungguh saat itu aku memeluknya dengan bibir bergetar dan air mata bercucuran, ia mengorbankan beberapa jilbab dan baju gamisnya untuk aku pakai, karena aku tidak punya itu. Sungguh Allah memberikan romance yang tiada orang tahu betapa hati ini perasaan, cinta, gembira , rindu yang penuh kasih sayang. Dengan kejahuan kita teknologi Takliful Qulub tetap terhubung dengan selalu melantunkan do’a Rabitho selalu.






0 komentar:

Posting Komentar